Mengejutkan! Pura Besakih Pasca Erupsi dan Batur Yang Istimewa

Hari minggu kemarin, 8 April 2018 kami sekeluarga seperti pada tahun tahun sebelumnya, setiap memasuki sasih kedasa selalu meyempatkan diri untuk tangkil ring ajeng ida betara sasuhunan Hyang Tohlangkir di Pura Agung Besakih dan dilanjutkan menuju Pura Batur di Kintamani.

Pagi pagi sekitar jam 9.00 kami sudah berangkat dari rumah menuju Besakih, kurang lebih perjalanan dari rumah menuju Besakih ditempuh sekitar 2 jam dengan kendaraan roda empat. Dan inilah kedatangan kami di Pura Besakih untuk pertama kalinya setelah Gunung Agung Erupsi/Meletus pada Desember 2017 lalu.

Sampai di Tempat parkir kurang lebih jam 11.00 siang, dan saat pertama kali kaki ini menginjak ke tanah saya sudah merasa kaget karena seolah olah tidak pernah terjadi suatu peristiwa yang besar seperti apa yang diberitakan di TV beberapa bulan lalu. Rerumputan yang ada tepat dibawah kakiku begitu hijau dan suasana di sekelilingnya sangat sejuk dan tampak segar.

Rumput Pohon tampak Begitu Hijau dan Segar

Perlahan lahan aku melanjutkan perjalanan menuju ke Pedharaman sambil melihat lihat pemandangan disekeliling Pura Besakih, dan sampailah kami di atas Penataran Agung. Disana aku sempat ambil ambil foto dari area Pura untuk melihat suasana disekitarnya. Dan seperti biasa, tidak ada yang berubah pasca Gunung Agung Erupsi… hanya saja ada beberapa Pohon Pinus yang daunnya mengering tapi tampaknya begitu jauh dari areal Pura Besakih.

Pohon Kering di kejauhan

 

Dari semua yang kulihat…. Ternyata apa yang selama ini kubayangkan adalah sangat salah, aku terlalu berpikir bahwa setiap Gunung Berapi pasca meletus atau erupsi akan meninggalkan bekas bekas letusannya, seperti pohon pohon kekeringan atau sisa sisa abu vulkanik yang masih menempel di atas permukaan tanah. Tetapi yaaaa sudahlah….. jangan terlalu di pikirin, semua itu sudah kehendak alam dan apapun itu semua sudah diatur oleh Ida Sanghyang Widhi Wasa…..

Kami di Pedharman

Yang terpenting Kami harus selalu ingat kepada Beliau sebagai penguasa alam ini untuk selalu menyempatkan diri bersembahyang, mohon perlindungan terhadap Semesta dan selalu diberi Berkah, Rejeki yang berlimpah kepada kita semua.

Kemudian, setelah selesai menghaturkan sembah bhakti di Penataran Agung, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Batur, Kintamani. Pura Sad Khayangan Ulun Danu Batur adalah tujuan persembahyangan kami selanjutnya… Kurang lebih setengah jam perjalan dari Desa Besakih, akhirnya kami sampai di tujuan dengan lancar.

Memasuki pura batur

Sesampainya di Pelataran Pura Jaba Tengah, Aku merasa ada yang sangat istimewa disini. Tidak seperti upacara tahun tahun sebelumnya, aku lihat banyak orang yang memakai kostum ala ala perayaan Tionghoa di Balai Panjang sebelah kiri Gapura. akhirnya setelah lihat disekeliling baru aku sadar bahwa sebentar lagi akan ada pementasan BarongSai. Dalam benak sempat aku berpikir… Mengapa di Pura ini ada pementasan BarongSai? kok tumben lihat ya?… aku bertanya pada orang disampingku juga tidak tahu.

barongsai di mandala tengah

Dan akhirnya buru buru kami masuk ke Mandala Utama ketika melihat pintu gerbang telah dibuka oleh Pecalang. Perlahan kami mempersiapkan sarana persembahyangan, Bunga, Kwangen dan Dupa sudah ada di depan tempatku bersila, sambil menunggu Ida Pemangku Mepuja aku sempatkan diri melihat lihat disekeliling dan ternyata disebelah kiri tempat aku besila, ada sebuah gedong pelinggih yang wastra atau penganggenya (Hiasan) serba merah dan berciri khas perayaan Tionghoa. Belum sempat berpikir, akhirnya acara pamuspan sudah dimulai dipimpin oleh Ida Pemangku. Sehabis melakukan persembahyangan di Mandala Utama, secara tertib kami keluar satu persatu menuju ke Mandala Tengah tempat dimana kami melihat pementasan BarongSai tadi. Acara sudah dimulai dan Barongsai sudah beraksi, Anak anak begitu senang melihat dua Barongsai yang saling beradu kelihaian dalam menari.

BarongSai di Mandala Tengah

BarongSai di Mandala Tengah Pura Batur

Saking asiknya mengambil foto foto akhirnya kelupaan akan pertanyaan ku yang tadi belum mendapat jawaban. Tetapi nggak apalah yang terpenting hari ini kami sudah selesai melakukan persembahyangan di Pura Agung Besakih dan Pura Ulun Danu Batur dan kami pun memutuskan untuk pulang kembali…. Namun di tengah perjalanan menuju ke tempat parkir sebelum meninggalkan areal Pura, aku melihat sebuah Spanduk terbentang diatas jalan raya dengan bunyi ” Om Swastyastu Pura Sad Kahyangan Ulun Danu Batur – Geseng Caci Wak (1’10)”.

Geseng Caci Wak (1'10)

Kalimat “Geseng Caci Wak (1’10)” itulah yang aku tidak mengerti…. dan aku coba cari di situs mesin pencari juga nggak ketemu artikel yang membahas tentang kata itu. Terlepas dari semua kekurangan pengetahuan ku tentang itu, yang pasti…. jelas ada sebuah keterikatan sejarah tentang berdirinya Pura Ulun Danu Batur antara leluhur orang China dengan leluhur orang Bali…. Dan membuktikan bahwa betapa harmonisnya kehidupan jaman dulu, walaupun dengan budaya dan keyakinan yang berbeda tetapi bisa bersatu saling menghargai satu sama lainnya.

Dan itulah yang kesebut ISTIMEWA….

Sekian dulu sedikit cerita perjalan ku ke tempat tempat Suci yang kurangkum dalam kisah “Wisata Spritual” ku…. tunggu cerita istimewa selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *